February 04, 2012

ST. TARSISIUS MARTIR CILIK PELINDUNG PUTERA ALTAR

Sekitar tahun 250, agama kristen adalah agama yang terlarang di Roma. Kaisar Valerianus memerintah untuk mencari dan menangkap para pengikut Kristiani untuk disiksa dan dibunuh. Larangan ini muncul akibat penolakan para pengikut Kristus untuk melakukan penyembahan kepada Dewa Dewi Roma.

Pada masa itu, Kekristenan mengalami penindasan oleh para pagan. Banyak dari para Kristen yang dibunuh, ada yang diracun, maupun diumpankan kepada singa di Colloseum. Untuk menghindari para pagan, kaum Kristiani membuat jalur-jalur dan ruang-ruang bawah tanah, yang disebut Catacomba. Di tempat ini mereka mengadakan Misa Kudus, di mana setiap Kristiani menerima Komuni Suci dan juga menerima petunjuk dari uskup dan imamnya. Pada saat itu, para tawanan Kristen merindukan menerima Komuni Suci, sehingga mereka menyampaikan pesan kepada uskupnya agar mereka dapat menerimanya. Setelah usukupnya mendengar, lalu dipikirkan siapa yang akan membawanya

Para uskup dan imam jelas tidak bisa, karena resikonya mereka dapat ditangkap dan dipenjarakan; juga banyak dari orang-orang Kristen yang ada.
Ketika itu, seorang anak yatim-piatu bernama Tarcisius, berlutut dekat kaki uskup dan memohon agar ia diperbolehkan membawanya. “Aku masih kecil, orang-orang pagan akan berpikir bahwa aku hanyalah anak kecil pengantar pesan, dan membiarkan aku lewat.” dan permintaannya direstui pada akhirnya meskipun tadinya ditolak karena ia masih terlalu kecil untuk mengamban misi ini.

Di jalan, Tarcisius bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Mereka akan memulai permainan, namun membutuhkan satu orang lagi agar jumlahnya genap. Ketika dilihatnya oleh mereka Tarcisius yang sedang berjalan, mereka mengajaknya untuk bermain. Tarcisius menolaknya, berkata bahwa ia sedang membawa suatu pesan penting. Anak-anak itu, yang melihat Tarcisius membawa sesuatu, mencoba merebutnya. “Dia orang Kristen. Dia menyembunyikan sesuatu misteri Kristen padanya.” Mereka menendang, memukul, berusaha sekuat tenaga untuk merebut yang ia lindungi, namun tangan kecil itu tetap tak bergerak, tangan itu begitu kerasnya memegang erat apa yang ia bawa dengan penuh kepercayaan. Sepertinya ia mendapat kekuatan yang begitu kuat sehingga dapat menahankan semua serangan itu. Pemandangan itu menarik perhatian orang-orang yang lewat, mereka menanyakan apa yang terjadi. Mengetahui bahwa Tarcisius adalah seorang Kristen, melayanglah pukulan dan serangan kepada anak kecil itu. Tarsicius bahkan dilempari batu oleh orang-orang itu.

Lalu datanglah seorang prajurit, Quadratus, memisahkan gerombolan itu. Ia melihat Tarsicius terkulai lemah dengan luka-luka yang teramat parah akibat pukula dan lemparan batu. Quadratus juga seorang Kristen, Tarcisius mengenalinya karena mereka sering bertemu di katakomba. Ia menyerahkan Sakramen Mahakudus kepada Quadratus, dan dalam senyum kemartirannya ia pun meninggal. Quadratus lalu membawanya ke pemakaman Santo Callistus, di mana ia dibaringkan di tengah kekaguman kaum beriman lainnya yang lebih tua usianya (Tarsicius meninggal pada usia sekitar 12 tahun)

Tarcisius dimakamkan di Katakomba Paus St. Callistus yang terletak di Appian Way. Di abad keempat Paus Damasus I memahatkan tanggal kematiannya, 15 Agustus 257. Reliknya disimpan di Gereja San Silvestro in Capite di Roma.
Makam St. Tarsicius di Appian Way
(Katakomba St. Callistus)

Paus Damasus yang suci memberikan epitaph bagi St. Tarsicius dalam “Damasi epigrammata”, 13 yang isinya :

Par meritum, quicumque legis, cognosce duorum, quis Damasus rector titulos post praemia reddit.
Iudaicus populus Stephanum meliora monentem perculerat saxis, tulerat qui ex hoste tropaeum, martyrium primus rapuit levita fidelis.
Tarsicium sanctum Christi sacramenta gerentem cum male sana manus premeret vulgare profanis, ipse animam potius voluit dimittere caesus prodere quam canibus rabidis caelestia membra

(karena seperti martir ini dirajam oleh orang Yahudi, maka demikianlah juga Tarcisius diserang oleh para berandal kafir. “Ketika segerombolan anak jahat melibatkan diri mereka kepada Tarcisius yang sedang membawa Ekaristi, bermaksud untuk mencemarkan Sakramen itu, anak laki-laki itu memilih menyerahkan hidupnya daripada menyerahkan Tubuh Kristus kepada anjing-anjing liar itu.)

No comments:

Post a Comment